Sumber: FORUM Keadilan/PROFIL/Edisi.33/Desember 2008
Muda, enerjik, dan cerdas. Pemuda supel ini tak kenal lelah berjuang membangkitkkan sektor kelautan Indonesia dengan melakukan advokasi kepada kaum nelayan untuk bangkit dari keterpurukan.
M.Riza Damanik, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA)
Tak ada yang menyangkal bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.508 gugusan pulau yang berada pada batas dua samudra. Belasan ribu pulau ini dihubungkan oleh laut yang membentang luas, dan diakui dunia Internasional berkat adanya Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Sebelum deklarasi itu diakui dunia Internasional, perairan laut Indonesia hanya diakui sejauh tiga mil dari garis pantai, berdasarkan ordonansi tentang laut teritorial dan lingkungan maritim. Tentu saja ini jadi masalah yang sangat serius. Sebab jika batas negara hanya tiga mil dari garis pantai, maka negara Indonesia akan terpecah-belah oleh adanya laut bebas di antara pulau-pulau yang dimiliki, karena diluar tiga mil adalah laut Internasional. Karena ancaman itu, dengan segala keberanian dan risiko yang akan dihadapi, Perdana Menteri RI, Ir Djuanda, pada tanggal 13 Desember 1957 mengumumkan “Deklarasi Nusantara” kepada dunia Internasional yang menyatakan wilayah laut Indonesia tidak hanya sebatas tiga mil, tapi laut yang ada di sekitar dan di antara kepulauan nusantara.
Dengan deklarasi itu, ribuan pulau yang dihubungkan oleh laut membentang luas, bukan lagi menjadi pemisah pulau-pulau Nusantara tetapi perekat kedaulatan negara. Dengan deklarasi itu pula, luas Laut Kedaulatan Indonesia menjadi 3.1 juta km2, Luas Laut ZEE 2.7 juta km2, Panjang Pantai 81,000 km. Deklarasi ini tidak serta merta diterima masyarakat internasional. Perjuangan menegakan kedaulatan negara terus dilakukan melalui diplomasi yang tidak ada hentinya. Berkat perjuangan para penerus Djuanda, seperti Prof. Moechtar Kusumaatmaja dan Prof Hasyim Djalal, pada akhirnya deklarasi yang berisi konsepsi Negara Nusantara dapat diterima masyarakat Internasional dalam sebuah konvensi hukum laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui United Nation Convention Low Of The Sea (UNCLOS). Dengan pengakuan itu, wilayah laut Indonesia pun bertambah luas dan potensi serta sumber daya alamnya makin bertambah.
Namun sayang, dalam perjalanan waktu, dominasi kepemimpinan bermental kontinen telah menyebabkan tergerusnya kultur kebaharian kita. Model pembangunan terlalu diarahkan pada titik-titik yang bertumpu pada ruang daratan. Demikian pula dengan politik kebijakan nasional, yang mengakibatkan banyak wilayah kepulauan terisolasi dan sangat tergantung pada pemerintah pusat untuk berbagai hal.
Dalam pandangan M Riza Damanik, Sekretaris Jenderal Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA), hingga detik ini, ia belum melihat kesungguhan Negara dalam mengelola sumberdaya laut secara konstitusi. Hasilnya, pesisir yang kaya akan sumberdaya justeru menjadi tempat yang dekat dengan kebencaan dan kemiskinan. ”Hal ini sungguh tidak patut terjadi,” tandas mantan koordinator divisi Kampanye Pesisir dan Lautan pada Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
Wajar bila kegundahan pemuda 28 tahun yang kini juga dipercaya sebagai Koordinator Kampanye untuk ASIA (Asia Solidarity againts Industrial Aquaculture)—sebuah jaringan organisasi sipil di tingkat Asia, dengan advokasi khusus pada kegiatan industri pertambakan, yang bersekretariat di Bangladesh—membuncah. Katanya, setiap menit, kapal-kapal besar nasional maupun asing; baik legal maupun illegal dengan mudah memanfaatkan sumberdaya perikanan kita. Disisi yang lain, nelayan tradisional terus diperkecil wilayah tangkapnya, baik akibat pencemaran lingkungan, reklamasi, maupun yang disebabkan oleh kebijakan Negara sendiri.
Pada waktu yang sama, sumberdaya di jual murah, tanpa menempatkan kepentingan domestik sebagai tujuan dari pembangunan itu sendiri. Bahkan dalam banyak kesempatan, resiko kerusakan lingkungan pesisir dan laut, kemiskinanan, hingga bencana pesisir kerap menjadi biaya yang ditanggung oleh masyarakat nelayan dan pesisir Indonesia, meskipun komoditas perikanan yang dihasilkan sesungguhnya bukan untuk konsumsi nasional.
Pendek kata, lanjut Riza, sejak masa kemerdekaan hingga Orde Baru, laut bukanlah “rumah” bagi anak bangsa. ”Laut hanya ditempatkan sebagai tong sampah dari limbah daratan,” keluhnya.
Namun kondisi tersebut bukanlah harga mati bila kita bisa mendorong perhatian yang serius terhadap kelautan dan perikanan nasional. Setiap keluar masalah, tentu ada solusi, begitu aktivis muda nan ulet ini meyakini.
***
Riza Damanik lahir di Tanjung Balai, Asahan, Sumatera Utara, sebuah kota pesisir yang cukup terkenal dengan kekayaan sumberdaya perikanannya. Kedua orang tuanya, H. Hadmansyah Damanik – Hj.N.Purba, meyakini bahwa suatu kaum dapat berubah menjadi lebih baik hanya dengan menimba ilmu dan berorganisasi. Karena itulah pasangan ini selalu mendorong anak-anaknya untuk menimba ilmu dan memperkaya pengalamannya dengan berorganisasi.
Hasilnya, dalam usia 25 tahun, Riza berhasil menyelesaikan studi S-2 di Universitas Gadjah Mada untuk program studi Ilmu Lingkungan. Adik bungsunya pun menyelesaikan S-2 pada usia yang sama. Kini, sang kakak juga tengah menyiapkan studi pascasarjananya. Tentu sebuah prestasi yang cukup membuat keduanya tersenyum bahagia, dan tentu juga bangga.
Masa kecil sampai menyelesaikan sekolah bangku SMU, anak tengah dari tiga bersaudara ini menghabiskan waktu di Medan. Jadwal belajarnya pun cukup padat. Sejak usia 6 tahun, selepas sekolah formal, ia mengikuti sekolah agama yang juga berada tidak jauh dari rumah. Demikian juga malam hari, dilanjutkan dengan kursus privat membaca Al-Qur’an tiga kali seminggu, dan pelajaran dalam mata pelajaran khusus seperti matematika, fisika, dan kimia dalam hari lainnya.
Riza kecil sudah aktif berorganisasi sejak ia duduk di bangku SD hingga SMA. Mulai dari perhimpunan terkecil di dalam kelas, sampai pada organisasi sekolah, bahkan antar sekolah. Selain aktif berorganisasi, Riza yang bercita-cita menjadi diplomat ini juga gemar berolah raga. Seperti sepak bola, tenis meja, bola basket, hingga renang. Sejumlah prestasi sempat diraih dalam bidang-bidang olah raga tersebut.
Memasuki kehidupan kampus, “ladang” bermain Riza kian luas. Terlebih, hasrat keingintahuan dan keprihatinannya atas apa yang terjadi pada kehidupan masyarakat pesisir. Pertanyaan mendasar yang selalu menggelitik di benaknya, mengapa laut yang begitu luas dan kaya, tapi tidak bisa membuat kehidupan nelayan sejahtera? Yang juga membuat jiwa muda Riza gundah, ia melihat begitu kurangnya perhatian generasi kala itu dalam bidang kelautan dan perikanan. ”Saya bertekad untuk menjawab tantangan kemiskinan intelektual kelautan tersebut,” ucap Riza yang memulai pendidikan S-1 Kelautan dan Perikanan di Universitas Hasanuddin (UNHAS), Makassar, namun menyelesaikannya di Universitas Diponegoro (UNDIP).
Di kampus, Riza dipercaya menjadi Koordinator Himpunan Mahasiswa Ilmu dan Teknologi Kelautan se-Indonesia (HIMITEKINDO). Dari sini pula, ia bertemu dengan intelektual kelautan nasional yang jumlahnya tentu sangat-sangat terbatas kala itu.
Meski sibuk dengan berbagai organisasi kemahasiswaan, Riza mampu menyelesaikan studinya di S-1 tepat waktu. Tamat kuliah pada 2003, ia langsung melanjutkan pendididikannya ke jenjang pasca sarjana di Universitas Gadjah Mada. Ia memilih program studi ilmu lingkungan, dengan pengkhususan penelitian pada pengelolaan wilayah pesisir dan sedimentasi.
Riza memang tak bisa diam. Di sela-sela menyelesaikan pendidikan, bersama sejumlah penggiat kelautan di Yogyakarta, ia masih sempat membangun sebuah organsasi yang konsern dalam hal kelautan dan perikanan. Di Yogyakarta pula, ia mulai aktif membangun perpekspektif kelautan yan berkeadilan melalui media tulisan artikel baik di media lokal dan nasional, serta sejumlah karya ilmiah.
Perkenalannya dengan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) dimulai pada 1999 di Makassar, saat ia masih semester tiga. Ketika itu ia dan beberapa jaringan organisasi dari berbagai Universitas se-Indonesia sedang giat membangun jaringan pesisir. Riza meyakini bahwa upaya pembenahan sektor kelautan dan perikanan Indonesia tidak dapat dilakukan hanya oleh sekelompok orang saja.
Nah, WALHI sebagai organisasi advokasi lingkungan hidup dan hak asasi manusia (HAM) yang terbesar dan terdepan di Indonesia telah menjadi referensi dari gerakan lingkungan hidup di regional bahkan internasional, harusnya juga mempunyai tanggung-jawab besar dalam menjawab permasalahan yang ada di wilayah pesisir dan laut kita. ”Tidak cukup hanya berbicara masalah kehutanan dan pertambangan semata,” sergahnya.
WALHI menyambut gagasan segar Riza dengan tangan terbuka. Sikat cerita, upaya keras WALHI menghantarkan isu kelautan dan perikanan menjadi salah-satu topik ekonomi politik nasional yang diperhatikan saat ini cukup sukses. Di organisasi lingkungan hidup terbesar di Indonesia ini pula ia didaulat sebagai koordinator divisi kampanye pesisir dan laut WALHI.
Di sini, tanggung jawab Riza cukup besar. Mulai dari mengajak keterlibatan aktif para anggota untuk terlibat dalam advokasi kelautan, memproduksi pengetahuan kelautan untuk publik dan jaringan, mensinkronkan kampanye mulai dari tingkat lokal dan nasional. Gagasan besar WALHI kala itu adalah memfasilitasi terbangunnya organisasi nelayan nasional Indonesia yang kuat. ”Alhamdulillah gagasan ini terus berjalan dan masih dalam spirit kebersamaan yang terus dipertahankan di KPNNI (Komite Persiapan Organisasi Nelayan Nasional Indonesia),” jawab Riza dalam pesan di Yahoo Messenger ke redaksi FORUM, Jumat pekan lalu.
Tanggung jawab itu tidak saja dalam merawat jaringan di tingkat nasional, namun juga jaringan internasional. Maklum, pemuda supel ini juga dipercaya sebagai country convenor SEAFish (Southeast Asia fish for Justice) dan sejumlah jaringan kerja internasional lainnya. ”Ini menjadi pengalaman berharga untuk tetap pada keyakinan memperjuangkan hak-hak masyarakat nelayan dan petambak tradisional dalam bingkai Indonesia yang berdaulat dan bermartabat tentunya,” Riza bersemangat.
Menyelesaikan tugasnya sebagai koordinator divisi kampanye pesisir dan laut WALHI, kini Riza tengah sibuk mengelola sebuah organisasi baru yang ia beri nama KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan). Organisasi ini merupakan sebuah jaringan organisasi nonpolitik dan organisasi massa yang bekerja pada isu perikanan dan kelautan di Indonesia. Organisasi ini lebih terfokus pada advokasi kehidupan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
Target jangka panjang KIARA yakni membangun peradaban baru Indonesia dengan karakter kebahariannya. Artinya, kebijakan yang lahir dari legislatif dan pemerintah harus berpekstif keadilan bagi kehidupan nelayan dan petambak tradisional Indonesia. ”Begitupun masyarakat perikanan tradisional, dapat terus mengembangkan tradisi-tradisi lokalnya yang menceminkan kesungguhan dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekonomi bagi keluarga dan komunitasnya.”
Untuk mewujudkan cita-cita itu, tak sedikit waktu Riza yang tersita. Maklum, dia harus banyak berkeliling ke basis-basis nelayan yang tersebar di seluruh pejuru Tanah Air. Untuk memperkuat jaringan kerjanya, ia juga harus makin erat melakukan kerjasama dengan organisasi serupa di tingkat internasional. ”Perjuangan ini memang perlu energi besar yang terkonsolidasi. Di sinilah dibutuhkan konsistensi dan kesabaran untuk sampai pada perubahan besar yang kita cita-citakan,” terang Riza.
Beruntung, Riza mendapat dukungan penuh dari Nina Alni, sang isteri tercinta, dan anak semata wayangnya, Nakeisha Arla Arriza Damanik. Sadar akan waktunya yang cukup terbatas untuk keluarga, Riza pun selalu berusaha menyempatkan waktu untuk berkomunikasi dengan istri dan anaknya saat berada di kantor maupun ketika berada di luar kota atau bahkan luar negeri. ”Biasanya sering SMS atau chat dengan Yahoo Messenger,” ujar lelaki penumpang setia Kereta Rel Listrik jurusan Jakarta–Bogor ini dengan senyum.
Sebenarnya, ia punya jadwal khusus untuk keluarga, yakni Sabtu dan Ahad. Tapi, lagi-lagi karena kesibukannya yang kadang tak mengenal waktu, tak jarang ia pun terpaksa meninggalkan keluarga. Tapi, kata Riza, ada kompensasinya. ”Kalau lagi libur, kami selalu punya program khusus. Mulai dari mencicipi masakan istri sampai nonton film bareng,” kata lelaki 28 tahun yang mengaku energinya selalu terpompa setiap kali merasakan asinnya hembusan angin laut.
”Laut adalah masa depan negeri ini,” begitu ia berkali-kali mengulang kalimat itu tanpa bosan. Dan inti dari semua perjuangannya, kata penggemar olahraga selam ini, tidak ada lagi alasan bagi generasi muda Indonesia untuk berpangku tangan. Banyak hal bisa dilakukan untuk membangun negeri ini.
Ya, sebagai generasi muda, Riza M Damanik telah mengawali. (Sukowati Utami)
I. Biodata
Nama : Muhammad Riza Adha Damanik
Tempat/Tgl Lahir : Tanjung Balai-Sumatera Utara/17 Oktober 1980
Status Pernikanan : Menikah, satu anak
Alamat kantor : Jl Teluk Bayur I No.7C Kompleks TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu, Jakarta-INDONESIA 12520
e-mail : riza.damanik@gmail.com; mriza_damanik@yahoo.com
II. Riwayat Pendidikan
2003 – 2005: Program Pasca Sarjana (S-2) Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. (M.Si)
1998 – 2003: Strata 1 (S-1) Jurusan Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang. (S.T)
1995 – 1998: Sekolah Menengah Umum (SMUN 5, Medan)
1992 – 1995: Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMPN 4, Medan)
1986 – 1992: Sekolah Dasar (SD Nurul Islam Indonesia , Medan)
III. Pengalaman Organisasi ( 5 tahun terakhir)
2008—sekarang: Sekretaris Jenderal KIARA (Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan).
2007—sekarang: Country Convenor-Indonesia pada SEAFish (Southeast Asia Fish for Justice) yang bersekretariat di Filipina.
2006—sekarang: Koordinator Kampanye untuk ASIA (Asia Solidarity againts Industrial Aquaculture) .
2006—2008: Manager Kampanye Bidang Pesisir dan Laut pada WALHI
2005—2006: Staf Peneliti/Kampanye Pesisir dan Lautan pada Eksekutif WALHI. Jakarta
2005: Wakil Sekretaris pada Lembaga Pengkajian Manajemen dan Kebijakan Publik (LPMKP). Jakarta
2004: Staf Pengajar pada Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Asahan – Sumatera Utara. Asahan
2004: Anggota Tim Pembahasan Kegiatan Pengelolaan Wilayah Pesisir Pantura, Propinsi Jawa Tengah.
2004: Tim Peneliti Indonesia, INSTANT PROGRAM 2004, Bitung, Celah Lifamatola-Maluku, Laut Banda dan Selat Makassar
2003—2004: Staf Peneliti, Yayasan Gema Mitra Bahari, Yogyakarta
III. Pelatihan
- Political Ecology Course. Institute of Social Studies (ISS). The Hague, Netherland. 2008.
- International Workshop on Exploring Resource Management Policy Advocacy. International Institute for Rural Reconstructure (IIRR). Silang, Cavite, Philippines. 2006
- Pelatihan Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Zone Planning Management/ICZPM) . MCRMP Propinsi Sumatera Utara. Medan-Sumatera Utara. 2004






